My Blog


Thursday, October 11, 2012

MAKNA SURAT AL FATIHAH

Pembaca blog yang budiman, surat Al Fatihah dikenal sebagai intisari Al Qur’an , karena itu pada saat melaksanakan sholat, surat Al Fatihah harus dibacakan dalam setiap rakaat…
Dalam pengalaman saya sebagai penyembuh spiritual selama  sekitar 30 tahun, ternyata semua pasien saya yang terserang berbagai penyakit, baik itu medis maupun non medis, semuanya tidak tahu arti dan makna dari Al Fatihah …
Hampir semuanya hanya hapal bahasa arabnya tapi tidak tahu artinya…
Memang sebagian kecil ada yang tahu artinya, tapi hanya sebagian kecil dari ayat nya saja….
Dari pengalaman ini, saya berkesimpulan bahwa kalau mau hidup selamat, terbebas dari berbagai penyakit dan masalah, setiap orang yang mengaku beragama Islam, mutlak harus memahami dengan baik dan benar makna dari Surat Al Fatihah…
Karena itu saya tayangkan cuplikan Tadabbur Al Fatihah dari weblog Tadabbur Qur.an milik Ustadz Fadhilza untuk memahami  makna Surat Al Fatihah secara baik dan benar…
( Pak Fadhilza,… saya minta izin ya, menyebar luaskan Tadabbur Al Fatihah milik bapak…)
INILAH ARTI/MAKNA DARI SURAT AL FATIHAH:
Ayat 1: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Rasakan betapa besar kasih sayang Allah kepada kita semua, bayangkan semua nikmat yang telah kita terima dariNya. Nikmat udara yang kita hirup, nikmat penglihatan, nikmat pendengaran, nikmat sehat. Apakah kita sudah berterima kasih padaNya??. Rasakan kasih sayang dan sifatnya yang maha pengasih serta pemurah. Rasakan getaran dihati anda, hingga timbul dorongan untuk menangis. Silahkan menangis jika dorongan itu memang kuat. Jangan tahan tangisan anda.

Ayat 2: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
Rasakan betapa mulianya Allah, betapa Agungnya Dia , hanya Dialah yang berhak dipuji. Dialah Tuhan penguasa Alam semesta yang maha mulia dan Maha terpuji. Rasakan betapa hina dan tidak berartinya kita dihadapan Dia. Lenyapkan semua kesombongan diri dihadapaNya. Rasakan getaran yang dahsyat didada anda…

Ayat 3: “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Rasakan seperti pada ayat pertama
Ayat 4: “Yang menguasai hari pembalasan” 
Bayangkan seolah olah anda berada dihapan Allah di padang Mahsyar kelak. Dia lah penguasa tunggal dihari itu. Bagaimana keadaan anda dihari itu? Rasakan dan hayati ayat tadabbur yang anda dengar. Biarkan airmata anda mengalir . Menangislah dihadapan Allah pada hari ini , disaat pintu taubat masih terbuka. Jangan sampai anda menangis kelak dihari berbangkit ketika pintu taubat telah tertutup
Ayat 5: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”
Inilah pengakuan anda bahwa hanya Dia yang anda sembah, dan hanya padaNya anda mohon pertolongan. Buatlah pengakuan dengan tulus dan iklas.
Ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Mohonlah padanya agar ditunjuki jalan yang lurus. Jalan yang penuh dengan rahmat dan berkahNya. Dengarkan dan hayati kalimat tadabbur yang anda dengar

Ayat 7: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Bayangkan jalan orang orang yang telah mendapat nikmat , kebahagian dan kesuksesan sebagai karunia dari sisinya. Berharaplah untuk mendapat kebahagian seperti orang itu.
Bayangkan pula jalan orang orang yang mendapat murka dan azabnya
Bayangkan pula jalan yang ditempuh orang yang sesat mohon agar dijauhkan dari jalan itu.

Jika anda orang yang berhati peka pasti anda akan menangis, mendengar bacaan tadabbur ini. Jika anda belum merasakan getaran apapun dihati anda. Ulangi terus tadabbur ini. Gunung saja akan hancur mendengar ayat Qur’an , hati anda tidak sebesar gunung bukan? Mudah mudahan Allah tidak mengunci mati hati anda ..
sumber : http://tirtaamijaya.com

Thursday, October 4, 2012

Puasa Dan Kedahsyatan Energi Ilahi

Puasa adalah momentum kita semua untuk menghayati hakikat kekekalan energi. Bahwa tiada yang berkuasa dengan kuasa yang mutlak melainkan Allah SWT. Hatinya bersaksi, bahwa kekuasaan Allah SWT meliputi segala yang ada termasuk dirinya sendiri. Kekekalan ini terasa KETIKA KITA BERPUASA TIDAK MAKAN DAN MINUM, MENAHAN NAFSU MAKA YANG TERJADI ADALAH KUN FAYAKUN,  ENERGI ILAHI YANG LUAR BIASA DAHSYAT AKAN MENGALIR DALAM DIRI KITA. Dengan syarat, puasa kita adalah puasa yang betul.

Puasa Ramadhan yang rata-rata terdiri dari 30 hari bisa dibagi menjadi tiga momentum. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga. Pada 10 hari pertama kita mengoreksi diri dalam hal KESALAHAN OBYEKTIF mengenai makan dan minum. Kita kuat sesungguhnya bukan karena energi dari makanan dan minuman dan yang benar adalah kita kuat dan segar karena LA HAULA WA LA QUWWATA ILA BIL-LAH. Hakikat energi yang berasal dari makanan dan minuman itu sebenarnya hanya energi yang bisa terjadi atas perkenaan NYA semata.

Saat puasa, badan kita terasa lemah lunglai tiada berdaya. Namun sesungguhnya rasakanlah saat itu justeru muncul energi Ilahi dalam diri. Sama seperti saat bahaya mengancam, tiba-tiba energi kekuatan muncul tiada terduga… Itulah energi Ilahi yang keluar saat kita pasrah total. Tanpa pasrah total, ikhlas atau nrimo kita tidak akan pernah bisa didatangi oleh energi Ilahi. Maka pada saat puasa pula, biasanya merupakan saat terbaik untuk melakukan pemancaran energi Ilahi seperti mendoakan kesembuhan orang lain, kelancaran rezeki dan sebagainya.

Dan sesungguhnya energi Ilahi itu sudah tersimpan di dalam Kitab-NYA berupa ayat-ayat kauniah yang tergelar di alam semesta ini. Tinggal sekarang apakah kita mampu membuka kuncinya atau tidak? INNA QUWWATIH, NAKABAN NATAH KITABAN NATAH.. WA INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AN YAQULA LAHU KUN FAYAKUN.

Pada 10 hari kedua yaitu hari kesebelas hingga hari kedua puluh bulan Ramadhan, kita koreksi kesalah pahaman mengenai pembuangan tenaga. Bahwa kita tidak lah membuang tenaga melainkan justeru kembali ke NAFSIN WAHIDATIN. Alastu birabbikum, kalu bala syahidna (QS 7:172) yaitu Janji Kawula Gusti.

Dan puncaknya terjadi pada 10 hari ketiga yaitu hari kedua puluh satu hingga selesai bulan Ramadhan yaitu saat terjadinya LAILATUL QADAR. Yaitu teraksesnya ENERGI ILAHI oleh kesadaran ruhani kita seperti 1000 energi cahaya bulan yang menjadi satu dalam satu momentum beserta kepastian Furqoni 82 tahun yaitu energi LA ILAHA ILAL-LAH.

Allah SWT yang menganugerahkan energi pada manusia agar dengan energi yang dimilikinya itu dia memiliki sedikit kuasa untuk berusaha dan berbuat. Namun perlu diingat bahwa kuasa dan upaya tersebut tentunya hanya "pinjaman" yang akan "kembali" kepada Yang Punya Kuasa.

Menyelami makna LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH (Tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah) dalam dirinya. Ungkapan tauhid ini mengandungi rahasia bahwa Tuhanlah yang Memiliki Semua Energi di alam semesta ini. Tiada satu pun energi kecuali berada di dalam kekekalan energi-NYA.

Kita makan dan minum untuk mencari sumber tenaga. Sumber tenaga dari makan dan minuman yang kita konsumsi sesungguhnya berasal dari tanaman, tumbuhan dan hewan. Mereka mendapat energi dari rantai makanan lain begitu seterusnya hingga akhirnya bermuara pada satu sumber energi yang tidak berasal dari sumber energi lain, yaitu Energi Ilahi.

Mereka yang tenggelam dalam lautan penyaksian wahdah (kesatuan sifat-sifat Allah) pasti menghayati bahwa manusia dan seluruh alam ini tidak pernah terlepas daripada kekuasaan Allah SWT. Maka, dia merasa harus menghambakan dirinya dan memilih untuk mentaati-Nya.

Tidak mudah untuk menemukan rumusan rahasia ini. Kita bisa berteori namun umumnya belum sampai pada pemahaman yang sesungguhnya. Mata, telinga dan hati kita masih terhijab dan hakikat hukum kekekalan energi Allah SWT belum mampu kita temukan. Kita masih menganggap bahwa yang berperanan dalam memberi manfaat dan menolak kemudaratan adalah dirinya sendiri dan makhluk-makhluk di sekitarnya.

Kita yang lalai itu terhijab dengan perbuatan Allah (af’aal) melalui makhluk-makhlukNya (infi’al) sehingga gagal menghayati makna sebenar wujud seluruh makhluk.  Kita terhijab dalam kepompong hukum sebab akibat sehingga tidak dapat menghayati konsep qudrat (kekuasaan), iradah dan ilmu Allah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kita sebagai berikut: KUNCI SEBENARNYA MENGAKSES ENERGI ILAHI YAITU MENGAKUI KEKUASAAN ALLAH SWT DENGAN CARA MENGAKUI KELEMAHAN DIRI DI HADAPAN-NYA SEBAGAIMANA MUSA AS YANG TERSUNGKUR DI BUKIT SINAI. ATAU BERSUJUDNYA SEORANG MUSLIM DENGAN SUNGGUH SUNGGUH SUJUD SAAT SHOLAT. KEYAKINAN INI JIKA DITERJEMAHKAN DALAM DIRI SESEORANG MAKA DIA AKAN MENGHADAPI KEHIDUPAN INI DENGAN PENUH KEPASRAHAN, NRIMO, IKHLAS, KETERGANTUNGAN HATI HANYA KEPADA-NYA TANPA RASA KEBIMBANGAN SEDIKITPUN.

Apa yang dia laksanakan adalah apa yang dituntut oleh Allah. Mereka tidak perlu risau soal hasil karena sudah ada jaminan kepastian atas dirinya. Namun, tatkala mengetahui bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa dalam kehidupan ini, maka dia pun tidak bermalas-malasan dan sebaliknya akan "berusaha" sekeras mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Allah menugaskan agar kita berusaha dalam rangka menunaikan tugas penghambaan diri. Usaha yang kita lakukan sebenarnya telah diperintahkan oleh Allah dan ini kita lakukan dalam rangka penyempurnaan ibadah. Kita dilarang keras jadi pemalas! Karena kewajiban kita adalah melaksanakan ibadah khusus (syahadat, sholat, zakat, puasa dan sebagainya) dan ibadah umum (mencari rezeki, beramal kebajikan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, melestarikan alam sekitar dan sebagainya).

Energi Ilahi Yang Kekal

Ada satu fenomena yang bila kita memikirkannya kita akan menyebut ALLAHU AKBAR.. aneh tapi nyata.. yaitu tentang cahaya. Di dalam QS An Nur 35 menjelaskan: "Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Di dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu ada di dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di timur atau di barat. Yang minyaknya hampir menyala dengan sendirinya walaupun tiada api menyentuhnya. Cahaya di atas Cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-NYA, siapa saja yang ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segalanya."

Kenapa Allah SWT mengidentifikasikan diri-Nya dengan perumpamaan Cahaya Maha Cahaya? Jawabannya adalah cahaya tidak pernah kehabisan energi.

Ada anggapan sementara kaum ilmuwan di dalam Teori Einstein bahwa cahaya akan kehilangan energinya ketika meninggalkan medan gravitasi yaitu dengan bergeser warnanya ke arah warna merah dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Yang dimaksud kehilangan energinya adalah bukan dalam artian benar-benar hilang, tetapi energinya berkurang dengan mentransferkan energinya menjadi bentuk yang lain.

Cahaya ketika meninggalkan gravitasi (meninggalkan bumi) akan dibelokan dan terurai karena adanya perbedaan tekanan udara, seperti halnya cahaya ketika dilewatkan pada sebuah prisma. Disini tidak ada energi yang hilang.

Di dalam fisika, cahaya atau gelombang elektromagnetik adalah sebuah panjang gelombang tertentu yang dipancarkan dari sumber dengan gravitasi yang lebih kuat, yang terpancar menuju area dengan gravitasi yang lebih rendah. Pengamat akan melihat bahwa panjang gelombang yang diterimanya akan menjadi lebih besar (frekuensi lebih rendah, energi lebih rendah), itu yang disebut fenomena gravitational redshift.

Tetapi jangan buru-buru mengatakan bahwa cahaya tersebut kehilangan energi. Untuk hal yang seperti ini (dalam orde cahaya) kita harus menggunakan hukum relativitas, dan tidak bisa menggunakan fisika klasik.

Fenomena ini mirip dengan ketika ada dua orang, yang satu tinggal di bumi dan satunya naik pesawat dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Kedua orang tersebut mengukur panjang sebuah benda yang diam dibumi, hasil yang tampak adalah akan memperlihatkan bahwa hasil pengukuran mereka berbeda. Ini tidak bisa dipahami dengan fisika klasik tapi bisa dipahami menggunakan hukum relativitas.

Pada gravitational redshift tidak ada energi yang hilang, hanya ada perbedaan pengamatan akibat beda tempat, perbedaan tersebut harus dilihat secara relativistik (menggunakan hukum relativitas) jadi tidak ada yang hilang dan tidak ada yang aneh.

Hukum relativitas tidak pernah mengatakan bahwa kita bisa mundur ke masa lampau, itu hanya terjadi pada film fiksi saja. Tetapi menurut hukum relativitas bahwa waktu memang bisa molor tergantung dari posisi pengamatnya. Fenomenanya bisa diamati salah satunya yaitu ketika foton dari cahaya matahari bergerak menuju bumi, waktu menjadi relatif bagi si foton.

Masih di dalam fisika bahwa semua partikel (apapun itu jenisnya) tidak bisa bergerak dengan kecepatan melewati 3 x 10^8 m/s (kecepatan cahaya). Mungkin itu sudah dibatasi oleh yang menciptakan alam ini. Kalau ada partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melampaui kecepatan cahaya persamaan relativitas menjadi tidak terdefinisikan. Jika kita naik pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap bumi, kemudian kita menembakan peluru pada arah yang sama dengan pesawat dengan kecepatan 0.75 C relatif terhadap pesawat, maka kecepatan peluru terhadap bumi tidak menjadi 1,5 C.

Barangkali itu sebabnya, Allah SWT membuat perumpamaan dirinya dengan Cahaya Maha Cahaya… Sebab cahaya-NYA tidak pernah kehabisan energi dimana pun dan sampai kapanpun. Energi Ilahi sebagaimana tercermin dalam energi dalam hukum fisika, akan kekal abadi sepanjang masa dan kita akan bisa mendapatkannya kapanpun kita inginkan asal punya niat dan kemauan. Mari kita berproses bersama menuju kesempurnaan… Selamat berpuasa Ramadhan.

Sumber : Milis YahooGroups
Sumber : http://www.indospiritual.com